Penggunaan Dana Zakat Untuk Istismar (Investasi)
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA
Nomor 4 Tahun 2003
Tentang
PENGGUNAAN DANA ZAKAT UNTUK ISTITSMAR (INVESTASI)
a. bahwa pengelolaan dana zakat untuk dijadikan modal usaha yang digunakan oleh fakir dan miskin (mustahiq), banyak ditanyakan oleh umat Islam Indonesia;
b. bahwa oleh karena itu, Majelis Ulama Indonesia memandang perlu menetapkan fatwa tentang status pengelolaan dana zakat tersebut untuk dijadikan pedoman oleh umat Islam dan pihak-pihak yang memerlukannya.
1. Firman Allah swt tentang zakat; antara lain:
۞ اِنَّمَا الصَّدَقٰتُ لِلْفُقَرَاۤءِ وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْعٰمِلِيْنَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوْبُهُمْ وَفِى الرِّقَابِ وَالْغٰرِمِيْنَ وَفِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ٦٠
“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang fakir, orang miskin, pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan budak), orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan orang yang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana” (QS. al-Taubah [9]: 60).
1. Pendapat ulama tentang ta’khir dan istitsmar zakat:
ري ىج اءِهقَفُالْروهم دؤتنْأَةَرورض ىالز اةُكَ
لَإِ ىم دقُالْاوهبِوجودناعروافَهيقِّحتس ىلَعةر
هاجِرخإِ ا، و احصلزوجايلَهنأَ بِ الِمالْ
ق حا ثَأْيبِمأْالتخرِيلغرِيعرٍذْل،أَنه و،ا أْتخيره
اجهِتم، ستقِّحيهلعِفْدح م ى صفُرإِهلَ جِيب
ى(ذْخ اكَةفقَيولهتالَع الز والْنَّأَلأَمبِرعِفْد
صةًقَد (قْمبِنٌرِتفَالْرِوية .ويرى مأَنموهِالم
( :ص رِمةٌي(. َآخرأَنَونهعا
اسثْتارِم واز جى الْولَخةُاصمنهكُذَلُّاهأَنننار
والْمعِانِص جارةوأَالْنامِع كاَةفيالت الز أَمالِو
تشغالْلِيعاطلينعالْنِعلِممن و ا غَورِيه
اءِرقَفُالْ ، و الِومأَالْهذهلكالمالْنُوكُي ىلَع
ينوبعنهمفي ستاقِقَح الا الْحققَيأَةرباب
افرشالإِْ هيلَع ا ص الزقودن اهتحلَصموأَةكاَ
ا تهتسسؤموأَ ةابقَرِتح الد اهافرشإِوةلَو
(ص
2. Pertanyaan dari masyarakat tentang penggunaan dana sebagai dana bergulir.
3. Rapat Komisi Fatwa, pada Sabtu, 6 Jumadil Awwal 1420/05 Juli 2003; Selasa, 15 Jumadil Awwal 1420/ 15 Juli 2003; 30 Agustus 2003;
MEMUTUSKAN
FATWA TENTANG PENGGUNAAN DANA ZAKAT UNTUK ISTITSMAR (INVESTASI
1. Zakat mal harus dikeluarkan sesegera mungkin (fauriyah), baik dari muzakki kepada amil maupun dari amil kepada mustahiq.
2. Penyaluran (tauzi’/distribusi) zakat mal dari amil kepada mustahiq, walaupun pada dasarnya harus fauriyah, dapat di-ta’khir-kan apabila mustahiq-nya belum ada atau ada kemaslahatan yang lebih besar.
3. Maslahat ditentukan oleh Pemerintah dengan berpegang pada aturan-aturan kemaslahatan (المصلحةضوابط) sehingga maslahat tersebut merupakan maslahat syar’iyah.
4. Zakat yang di-ta’khir-kan boleh diinvestasikan (istitsmar) dengan syarat-syarat sebagai berikut :
a. Harus disalurkan pada usaha yang dibenarkan oleh syariah dan peraturan yang berlaku (althuruq al-masyru’ah).
b. Diinvestasikan pada bidangbidang usaha yang diyakini akan memberikan keuntungan atas dasar studi kelayakan.
c. Dibina dan diawasi oleh pihakpihak yang memiliki kompetensi.
d. Dilakukan oleh institusi/lembaga yang professional dan dapat dipercaya (amanah).
e. Izin investasi (istitsmar) harus diperoleh dari Pemerintah dan Pemerintah harus menggantinya apabila terjadi kerugian atau pailit.
f. Tidak ada fakir miskin yang kelaparan atau memerlukan biaya yang tidak bisa ditunda pada saat harta zakat itu diinvestasikan.
g. Pembagian zakat yang di-ta’khir-kan karena diinvestasikan harus dibatasi waktunya.





